Hadapi Banjir dan Longsor Aceh Harus Kuat Mental

- Jurnalis

Senin, 15 Desember 2025 - 23:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berita Nanggroe – Bireuen . Ini bukan perjalananku ke tempat wisata ataupun kegiatan event yang biasa aku lakukan. Tapi ini perjalanan kemanusian sebagai relawan mengantar langsung bantuan logistik bagi korban banjir dan longsor Aceh melalui jalur darat.

Resiko di lapangan sudah pasti ada , namum dengan niat yang baik membantu meringankan penderitaan sesama yang tertimpa musibah resiko itu terkesanpingkan .

Seperti kita ketahui tiga provinsi di Sumatera yakni Sumbar, Sumut dan Aceh di Landa banjir dan longsor yang dahsyat yang dalam seketika menghancurkan rumah – rumah penduduk , infrastruktur dan korban jiwa.

“Ini Tsunami kedua bagi Aceh , tahun 2004 lalu air laut ke darat , kali ini air darat ke darat alias air tsunami darat,” sebut Ervanda Senin,15/12/25.

Pendapatku seperti itu apa yang terjadi saat ini bukanlah tanpa sebad , bukan terjadi begitu saja semua ada penyebad nya namum akan tetapi semua itu kehendak dari Allah SWT.

Berangkat dari Banda Aceh pukul 12.00 Wib untuk menyalurkan bantuan korban banjir dan longsor di pikiran ku cuma satu langsung merasakan apa yang mereka rasakan saat itu.

Baca Juga :  Anggota Satgas PPA Punyai Beragam SDM dan Siap Bantu Safrizal untuk Rehab Rekon Banjir Longsor Aceh

Kekurangan makanan , tidur di tenda , tanpa penerangan dan mandi yang tidak teratur dan ini sudah pasti akan kurasakan nanti saat bersama mereka dalam beberapa hari.

“Harus kuat mental untuk itu dan bagaimanapun juga harus bisa menyesuaikan dengan keadaan saat berada di lokasi tersebut,” kata Ervanda.

Kembali dalam perjalananku ke posko utama Bireuen , tepatnya pukul 15.00 Wib , aku dan rombongan melewati kabupaten Pidie Jaya tepat nya di Meuredu. Dimana di daerah kecamatan tersebut merupakan salah satu tempat yang di landa banjir dan longsor.

“Di jalan penuh debu berserakan bekas lumpur, kayu dan rumah – rumah penduduk ada yang sudah rata serta tenggelam dengan lumpur,” sebut Ervanda.

” Lumpur nya mengeras seperti batu dan bahkan lumpur tersebut menjadi gundukan tanah berbentuk bukit sulit diungkapkan dengan kata – kata ,” tambahnya.

Tidak berselang lama aku dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke Bireun , sesampai di kota nya suasananya seperti biasa – biasa saja seperti tidak terjadi apa – apa.

Dari kota Bireuen kami menuju daerah Peusangan akses jalan memasuki perkampungan disini suasananya sudah agak berbeda dengan di kota .Suasana disini benar – benar mencerminkan telah terjadi bencana besar banyak pos pos pengungsian.

Baca Juga :  Ada Pagelaran Musik Etnik di Taman Bustanulssalatin

“Mobil bantuan hilir mudik di jalan itu , tenda darurat berdiri kiri kanan sepanjang jalan dan warga sekitar dengan seksama mengatur lalu lintas dikarenakan jalan yang sempit,” ungkap Ervanda.

“Rombongan kami terus melanjut kan perjalanan dan sampailah kami di jembatan Awe Geutah dimana jembatan tersebut putus akibat banjir dan longsor dan diseberang sana banyak perkampungan penduduk dan malah ada Gampong yang hilang tanpa bekas hanya meninggalkan kayu – kayu berserakan,” ujarnya.

Ervanda menambahkan bantuan yang diakses ke gampong sebelah dilakukan dengan menyeberang melalui rakit dan tali dengan kondisi sungai masih sangat deras airnya.

“Ekstrem memang dengan kondisi seperti itu , bukan hanya logistik tapi juga pengungsi yang sakit ataupun anak balita di evakuasi melalui rakit dan tali , sedih melihat kondisi seperti ini tapi segala sesuatu ada hikmahnya ,” tuturnya .

“Kondisi seperti ini sulit diungkapkan dengan kata – kata dan kita semua harus tabah menghadapinya semoga keadaanya ini cepat berlalu ,” tutup Ervanda.

Berita Terkait

SAPA Minta Kejati Aceh Percepat Penanganan Dugaan Korupsi Beasiswa BPSDM
Haul Sultan Iskandar Muda ke -389 Ada Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor Aceh
Peringati 21 Tahun Tsunami, Pemerintah Aceh Gelar Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor
Anak – Anak Pengungsi Korban Banjir Longsor Aceh “Sekolah Kami Hancur , Kami Ingin Sekolah Lagi,”
Salurkan Bantuan Di Pijay Nama Ketum PIRA di sebut – sebut “ibu Novita Wijayanti Terimakasih dan Kemarilah”
Buka Open Donasi Korban Banjir dan Longsor , Seniman Aceh Bergerak
Sambangi Posko Relawan Mualem – Dek Fadh , Walikota Illiza Tanya Ini 
Setelah untuk umum , Yayasan Azzahra Sehat Harmoni lirik Siswa dan Mahasiswa untuk Pelatihan Chef 
Berita ini 5 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 13:49 WIB

SAPA Minta Kejati Aceh Percepat Penanganan Dugaan Korupsi Beasiswa BPSDM

Sabtu, 27 Desember 2025 - 19:17 WIB

Haul Sultan Iskandar Muda ke -389 Ada Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor Aceh

Sabtu, 27 Desember 2025 - 12:59 WIB

Peringati 21 Tahun Tsunami, Pemerintah Aceh Gelar Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor

Sabtu, 20 Desember 2025 - 19:06 WIB

Anak – Anak Pengungsi Korban Banjir Longsor Aceh “Sekolah Kami Hancur , Kami Ingin Sekolah Lagi,”

Jumat, 19 Desember 2025 - 14:14 WIB

Salurkan Bantuan Di Pijay Nama Ketum PIRA di sebut – sebut “ibu Novita Wijayanti Terimakasih dan Kemarilah”

Berita Terbaru

Juru Bicara Pemerintah Aceh Muhammad MTA (Foto : Ist)

Pemerintahan

Evaluasi Kemendagri Rampung, APBA 2026 Aceh Masuki Tahap Realisasi

Selasa, 3 Feb 2026 - 23:19 WIB