BERITANANGGROE.com | Pemerintah Aceh mulai melaksanakan program pembangunan dan pengembangan prasarana bagi 102 dayah yang tersebar di 22 kabupaten/kota melalui mekanisme swakelola pada Tahun Anggaran 2026.
Pelaksanaan program tersebut ditandai dengan penandatanganan surat perjanjian swakelola yang dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Abi Muhsin, S.Pd.I., M.Pd.I., pada Kamis (9/7/2026) di Asrama Haji Banda Aceh.
Kegiatan itu dihadiri pimpinan dayah dari berbagai daerah, perwakilan Kejaksaan Tinggi Aceh, Inspektorat Aceh, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Dayah Aceh, serta jajaran pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Dayah Aceh.
Dalam sambutannya, Abi Muhsin mengatakan mekanisme swakelola merupakan bentuk kepercayaan Pemerintah Aceh kepada pimpinan dayah untuk melaksanakan pembangunan dan pengembangan fasilitas pendidikan di lembaga masing-masing tanpa melalui proses tender atau pihak ketiga.
Menurutnya, kebijakan tersebut diharapkan mampu menghasilkan pembangunan yang lebih efektif, tepat sasaran, serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing dayah.
“Kepercayaan yang diberikan Pemerintah Aceh ini harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Seluruh pembangunan harus dilaksanakan sesuai ketentuan dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan agar hasilnya benar-benar bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dayah,” kata Abi Muhsin.
Ia menegaskan seluruh proses pembangunan akan berada di bawah pengawasan pemerintah. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan penyimpangan atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pihak dayah sebagai pelaksana swakelola.
Penandatanganan perjanjian tersebut menandai dimulainya pembangunan prasarana dayah di seluruh Aceh. Pemerintah Aceh berharap peningkatan kualitas infrastruktur dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih representatif dan nyaman sehingga mendukung peningkatan mutu pendidikan santri.
Abi Muhsin berharap program tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat peran dayah sebagai pusat pendidikan Islam dan pembinaan akhlak di Aceh.
“Dengan fasilitas yang semakin baik dan berkualitas, kami yakin kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan dayah akan terus meningkat. Ini merupakan investasi jangka panjang Pemerintah Aceh untuk memperkuat pendidikan Islam sekaligus membangun generasi masa depan yang unggul,” demikian Abi Muhsin.(**)












