BERITANANGGROE.com | Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh (DPDA), Muhsin, menerima kunjungan silaturahmi dari Yayasan Aceh Hijau di ruang rapat kantor setempat, Selasa (23/6/2026). Kunjungan tersebut membahas peluncuran program “Dayah Aman, Sehat, dan Tangguh di Aceh” yang bertujuan memulihkan sarana dayah pascabencana.
Dalam pertemuan itu, Muhsin didampingi oleh Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan SDM dan Kabid Pengembangan Santri. Sementara dari pihak Yayasan Aceh Hijau, hadir langsung sang ketua, Syarifah, bersama tim program.
Muhsin menyatakan menyambut baik inisiatif program yang digagas oleh Yayasan Aceh Hijau bersama para mitra tersebut. Menurutnya, dayah memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan agama, pembinaan karakter, sekaligus penguatan sosial kemasyarakatan.
“Program yang berfokus pada pemulihan sarana pendidikan, peningkatan kesehatan lingkungan, serta kesiapsiagaan bencana ini sangat relevan dengan kebutuhan dayah di Aceh pascabencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah,” ujar Muhsin.
Sementara itu, Ketua Yayasan Aceh Hijau, Syarifah, menjelaskan bahwa program ini akan berlangsung dari Juni hingga Desember 2026. Fokus utamanya adalah mendukung pemulihan fungsi dayah agar kembali menjadi lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan tangguh menghadapi risiko bencana.
Ia memaparkan, program tersebut akan dilaksanakan di lima dayah yang tersebar di empat kabupaten, yaitu:
Pidie Jaya: Balai Pengajian Babul Maghfirah Al-Aziziyah, Meureudu.
Aceh Timur: Dayah Istiqamatuddin Sa’adatul Ma’arif, Julok.
Bireuen: Dayah As-Syafi’iyah, Kuta Blang.
Aceh Utara: Dayah Darul Muta’allimin dan Dayah Bustanul Hidayati.
Program intervensi ini mencakup tiga fokus utama. Pertama, pemulihan lingkungan dan prasarana dayah yang rusak atau terdampak lumpur akibat banjir. Kedua, penguatan kapasitas pengurus, pengajar, dan santri melalui pelatihan manajemen, administrasi, serta dukungan psikososial. Ketiga, peningkatan kesiapsiagaan bencana melalui pembentukan tim siaga, penyusunan SOP, simulasi tanggap darurat, dan mitigasi berbasis masyarakat.
Langkah ini diambil menyusul banyaknya dayah di Aceh yang mengalami kerusakan infrastruktur, krisis sanitasi, hingga terganggunya proses belajar mengajar akibat bencana alam baru-baru ini.
Melalui sinergi antara DPDA dan Yayasan Aceh Hijau, program ini diharapkan dapat melahirkan model dayah yang tidak hanya kuat secara keagamaan, tetapi juga mandiri serta siap siaga dalam menghadapi ancaman bencana serta perubahan iklim di masa depan.(**)












