BERITANANGGROE.com | Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah meminta percepatan penyaluran bantuan dan program pemulihan bagi korban banjir dan longsor saat menerima kunjungan pimpinan dan anggota MPR RI di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (10/2/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka penyerahan bantuan bagi delapan kabupaten yang terdampak paling parah, yakni Aceh Utara, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua MPR RI Ahmad Muzani, para Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto, Hidayat Nur Wahid, Eddy Soeparno, Edhie Baskoro Yudhoyono, serta Abcandra Muhammad Akbar Supratman. Dari jajaran Pemerintah Aceh hadir Sekretaris Daerah Aceh Muhammad Nasir serta para bupati dan wakil bupati dari daerah terdampak.
Wakil Gubernur Fadhlullah mengatakan bencana banjir dan longsor telah berlangsung lebih dari dua bulan dan pemerintah terus melakukan penanganan. Saat ini tercatat sekitar 17 ribu kepala keluarga atau 69 ribu jiwa masih mengungsi, meskipun jumlahnya terus berkurang karena sebagian warga memilih kembali ke rumah atau menempati hunian sementara.
“Kami berharap dana bantuan dari Kementerian Sosial dapat dipercepat, di antaranya bantuan jadup bagi warga di hunian sementara, dana perabotan, serta dana pemulihan ekonomi. Harapan kami bisa secepat mungkin, kalau bisa sebelum meugang puasa,” kata Fadhlullah.
Ia juga menekankan pentingnya percepatan penanganan sektor lain yang terdampak, termasuk sawah dan kebun milik warga.
Selain itu, Wakil Gubernur meminta percepatan realisasi bantuan 1.455 ekor sapi meugang yang dijanjikan Presiden untuk masyarakat Aceh.
Fadhlullah turut mengusulkan agar iuran BPJS Kesehatan bagi sekitar 500 ribu warga Aceh yang selama ini ditanggung Pemerintah Aceh melalui program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dapat dialihkan pembiayaannya ke APBN melalui skema Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), mengingat Aceh tengah fokus pada penanganan bencana.
“Kami berharap dengan kedatangan pimpinan MPR RI, berbagai kebutuhan Aceh dapat ditindaklanjuti dan direalisasikan lebih cepat,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa sejak pembentukan Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada 8 Januari 2026, sejumlah sektor mulai menunjukkan pemulihan, mulai dari pemerintahan, layanan publik, pendidikan, akses darat, hingga aktivitas ekonomi dan sosial. Meski demikian, data pemerintah pusat masih mencatat sekitar 74 ribu pengungsi di Aceh.
Menurut Tito, solusi utama percepatan pemulihan adalah pemberian uang pengganti bagi warga dengan rumah rusak ringan, sedang, dan berat. Ia meminta pemerintah daerah segera menyerahkan data penerima serta menekankan pentingnya validasi data oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Data yang valid menjadi kunci, karena kita tidak ingin di kemudian hari terjadi persoalan hukum,” katanya.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari pembicaraannya dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf terkait penanganan bencana besar di Aceh. Ia menyebutkan bahwa Gubernur Aceh menyampaikan perlunya pembentukan badan rehabilitasi dan rekonstruksi serta keterbatasan keuangan daerah dalam menangani hunian sementara dan keberlanjutan pekerjaan warga terdampak.
“Semua yang disampaikan sudah kami laporkan kepada Presiden. Apa yang terjadi di Aceh adalah bagian yang kami rasakan. Sakit Aceh adalah sakit kami,” ujar Muzani.
Terkait sejumlah permintaan Pemerintah Aceh, Muzani menyatakan pihaknya akan memperjuangkan penghapusan sementara kebijakan barcode BBM dengan berkoordinasi bersama Pertamina, serta mengupayakan agar 500 ribu peserta JKA dapat ditanggung melalui APBN. Adapun terkait bantuan sapi meugang, ia menyebut akan dicarikan solusi agar manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh korban banjir, tetapi juga masyarakat Aceh secara lebih luas.
Dalam kunjungan tersebut, MPR RI menyerahkan sebanyak 15 ribu paket sembako berisi mi instan, minyak goreng, teh, biskuit, minyak kayu putih, popok, dan pembalut perempuan. Selain itu, turut disalurkan paket perlengkapan ibadah berupa sajadah, kain sarung, baju, mukena, dan Alquran untuk menyambut bulan suci Ramadan.(**)









