Implementasi MoU Helsinki Belum Optimal, Lembaga Wali Nanggroe Turun Gunung

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 11:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BERITANANGGROE.com | Pelaksanaan kewenangan khusus Aceh berdasarkan MoU Helsinki dan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) dinilai belum optimal, meski perdamaian telah berlangsung selama dua dekade.

Isu tersebut mengemuka dalam dialog antara Tim Kajian Implementasi MoU Helsinki dan UUPA Lembaga Wali Nanggroe bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat, Rabu (29/7/2026) di Kantor Bupati Aceh Barat.

Ketua Tuha Lapan Wali Nanggroe, Kamaruddin Andalah, menjelaskan dialog ini bertujuan menghimpun aspirasi daerah sebagai bahan rekomendasi strategis kepada Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh.

“Tim hadir bukan untuk mengevaluasi Pemkab Aceh Barat, melainkan mendengar langsung tantangan dan harapan daerah. Masukan ini akan menjadi rekomendasi untuk memperkuat implementasi MoU Helsinki dan UUPA,” ujar Kamaruddin.

Baca Juga :  Bank Aceh Syariah Resmi Mulai Persiapan jadi Bank Devisa

Pemkab Aceh Barat menilai MoU Helsinki berkontribusi besar terhadap stabilitas keamanan dan pembangunan. Namun, sejumlah kewenangan khusus belum terimplementasi maksimal, seperti pengelolaan sumber daya alam, pertanahan, tata ruang laut dan udara, hingga penyelarasan UUPA dengan regulasi nasional.

Selain kewenangan, forum menyoroti efektivitas Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA). Peserta mendorong penguatan tata kelola dan optimalisasi penyaluran DOKA agar manfaatnya makin dirasakan masyarakat secara merata.

Beberapa isu strategis lain yang dibahas mencakup:

Penguatan kewenangan pengelolaan sumber daya alam dan perizinan.

Penyelesaian konflik pertanahan dan percepatan pengembalian Hak Guna Usaha (HGU) yang habis masa berlakunya.

Baca Juga :  Lantik 11 Pejabat Baru, Prabowo Angkat Djamari Chaniago jadi Menko Polkam dan Erick Jabat Menpora

Perlindungan tanah ulayat dan hak-hak masyarakat adat.

Sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh, dan Pemkab untuk pengelolaan daerah yang berkelanjutan.

Plt. Sekretaris Daerah Aceh Barat, Dr. Kurdi, mengapresiasi ruang dialog yang dibuka Lembaga Wali Nanggroe. Ia berharap hasil kajian ini dapat memicu penyempurnaan kebijakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, Staf Khusus Wali Nanggroe, Dr. Mohammad Raviq, menegaskan aspirasi dari seluruh kabupaten/kota akan disusun menjadi kajian komprehensif. Rekomendasi tersebut nantinya diserahkan kepada Wali Nanggroe untuk diteruskan ke Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.(**)

Berita Terkait

Respon Permintaan Wali Nanggroe, MA Siapkan Naskah Akademik Pendirian Peradilan Niaga Syariah di Aceh
Bank Aceh Dorong Perluasan Ekosistem Pembayaran Digital, Merchant QRIS Tembus 25.748
10 Siswa SMPN 4 Peunayong Mual-Mual Usai Santap Ini , RS Kesdam Observasi 24 Jam
Pertama di Indonesia! Bank Aceh dan BI Aceh Luncurkan Soundbox QRIS Dinamis
Dilantik 21 Oktober, Kepala Madrasah Baru MIN 6 Model Langsung Gelar Maulid Akbar
Jelang Akhir Masa Tugas, Konjen Jepang Jamu Wali Nanggroe Aceh di Medan. Ini yang Dibahas
Wali Nanggroe Aceh Terima Kunjungan MAPIM, Jajaki Kerja Sama Strategis Aceh–Malaysia
Bank Aceh Terima Apresiasi ILO, Perkuat Komitmen Dukung UMKM Aceh Naik Kelas
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 11:27 WIB

Respon Permintaan Wali Nanggroe, MA Siapkan Naskah Akademik Pendirian Peradilan Niaga Syariah di Aceh

Senin, 2 November 2026 - 09:57 WIB

Bank Aceh Dorong Perluasan Ekosistem Pembayaran Digital, Merchant QRIS Tembus 25.748

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:42 WIB

10 Siswa SMPN 4 Peunayong Mual-Mual Usai Santap Ini , RS Kesdam Observasi 24 Jam

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:35 WIB

Pertama di Indonesia! Bank Aceh dan BI Aceh Luncurkan Soundbox QRIS Dinamis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:10 WIB

Dilantik 21 Oktober, Kepala Madrasah Baru MIN 6 Model Langsung Gelar Maulid Akbar

Berita Terbaru